Ocehan di Kala Bolos Sambil Makan Siomay 1
Assalamualaikum...
Saya, Jun, kembali lagi. sebenarnya kali ini, saya mau menulis tentang beberapa hal yang selama ini saya pendam, pengen saya ungkapkan, meskipun itu lewat tulisan di blog yang minim pembaca. Tapi, entah kenapa saya mau menceritakan saja tentang hari ini. Obrolan kecil dengan dua teman sekelas saya tadi siang.
Tadi siang, saya sama Tina, temen saya bolos jam pelajaran terakhir. Kegiatan bolos itu cuma kita isi dengan ngobrol sambil maka siomay. Gak begitu banyak hal yang kami bicarakan berdua, juga gak begitu berkesan, tapi entah kenapa mood saya mengatakan kali ini saya harus menuliskan pembicaraan itu.
Sekedar info, kalau Tina itu sama kayak saya. Sama-sama sekolah sambil kerja. Bedanya, ya cuma kerjaan kami saja yang beda. Kalau saya sebagai penyiar radio, dia sebagai... gak usah saya jelaskan lah ya, insyaalloh kerjaan dia hallal dan yang jelas juga pake tenaga. Jadi, pembicaraan kami gak jauh-jauh dari kata capek. Capek tenaga, juga pikiran, mungkin. Capek tenaga, ya jelas lah ya. Namanya kami harus bagi waktu untuk menjalankan tanggungjawab kami sebagi pelajar sekaligus sebagai pekerja. Capek pikiran ini nih, yang agak rumit.
1, kami harus mikirin dan bisa mutusin mana yang harus kami korbankan. Seperti, tugas saya lagi numpuk, dan kebetulan studio lagi rame (rame dalam artian banyak kerjaan yang harus dikerjakan selain siaran), di saat seperti itu saya harus bisa nentuin mana yang harus saya korbankan. Satu, ngorbanin tugas, dengan ketentuan nilai berkurang kalau ngumpulin telat. Dua, ngorbanin kerjaan studio, dengan ketentuan berani nanggung malu di hadapan rekan kerja. Tiga, ngorbanin waktu tidur, dengan ketentuan, you know lah... yang pasti ngantuk di keesokan harinya. Dan yang paling sering saya pilih, adalah yang pertama. Entahlah, entah karena saya tidak terlalu bijak dalam memilih, atau tingkat kesadaran terhadap pendidikan saya masih rendah.
2, kami harus mikirin bacotan orang-orang sekitar. Mungkin kalian akan berpikir, "udahlah.. bacotan orang gak perlu dipikirin.", but it's hard. terlalu sulit buat gak mikirin kata-kata orang yang begitu menusuk hati kami. Dulu, waktu saya awal-awal kerja, saya itu merasa capek banget. Dan mungkin karena itu sikap saya berubah atau bagaimana saya tidak tahu, itu masih menjadi misteri. Yang jelas, saat itu, suatu hari, si emak marah-marah. Dia bilang, saya sombong. Apa sih yang saya sombongin? Penghasilan saya yang sedikit itu? Iya? Entah saya tidak tahu atau saya lupa alasan mengapa ibu saya berbicara seperti itu. Yang jelas, ketika saya mengingat itu, itu menyakitkan. Tapi jangan berpikir kalau ibu saya itu bukan ibu yang baik. Asal kalian tahu, hal yang paling manakutkan di dunia bagi saya, adalah losing my mom. Dia satu-satu nya orang yang saya doakan agar selalu dikabulan semua doa-doanya.
Next, masih tentang bacotan orang. Ini terjadi juga pas awal-awal saya kerja. Waktu itu, saya lagi siap-siap berangkat kerja, pas saat itu ada saudara sepupu saya yang mampir kerumah saya. Terus entah kesambet apa, tiba-tiba dia ngomong, "Dapet berapa juta sih, lu kerja di radio? rajin amat!" saat itu, ingin melontarkan semua kata-kata kasar yang saya tau di depan mukanya. Tapi, yah, saya tidak bisa melakukan itu. Mungkin karena saya bukan tipe orang yang mampu berbuat seperti itu. Satu hal yang masih menjadi pertanyaan buat saya sampai saat ini, apasih, faedahnya dia ngomong seperti itu? semakin saya pikirkan, semakin saya gak ngerti dan semakin saya menyesal karena telah memikirkannya. Maunya sih, saya lupakan, tapi kok gak bisa ya?
Satu lagi bacotan orang. Kali ini dari teman saya. Dia bilang ke saya, "nyokap gue gak pernah minta anaknya buat kerja.". Kalimatnya sih simple, juga gak mengindikasikan kalau dia sedang ngomongin saya. Tapi, bayangkan jika saya bilang ke seorang gadis yang pakek barang mewah dengan bekas cupang di lehernya, seperti ini, " saya gak pernah jual diri, sih.". Bagaimana? Intinya sesimple apapun kaliamat kita, sadar atau gak sadar, terkadang itu telah menyakiti hati orang lain. Terus sering juga kita berpikir kalau seseorang merasa sakit hati karena omongan kita, masalahnya ada pada orang itu. Padahal mungkin sebenarnya gak, mungkin sebenarnya masalahnya ada pada kita. Mungkin kita yang biasanya bilang, "sensitif banget sih lu, gak bisa diajak bercanda." Mulai sekarang harus bilang, "apa yang salah sih, sama gue? Kenapa gue harus nyakitin hati orang lain, kenapa gue gak ngejaga omongan gue?". Seperti itu. I know nobody's Perfect, but it would be nice if we try to be better.
Cukup sekian dulu yah, ocehan saya. Sebenarnya masih ada pembicaraan lebih lanjut dengan teman saya yang satunya lagi. Pembicaraan gak penting itu akan saya lanjutkan, entah kapan. Karena sekarang, saya masih di studio dan sudah cukup malam. Saya harus pulang. See ya!
Wassalamualaikum...

0 komentar